Perjalanan Saya Jatuh Cinta dengan Dunia Programming

 


Awal Rasa Penasaran: Robot dan Imajinasi Masa Kecil

Awal saya kenal dunia coding bukan dari website atau aplikasi, tapi dari satu pertanyaan sederhana waktu kecil:

“Gimana caranya robot bisa bergerak dan nurut perintah?”

Buat saya, robot itu terasa seperti sesuatu yang hidup. Ada logika di balik gerakannya, ada “otak” yang mengatur semuanya. Dari rasa penasaran itu, saya mulai mencari tahu—baca-baca, nonton video, dan akhirnya kenal dengan dunia elektronika dan Arduino.


Ngulik Robot Pakai Arduino


Saat pertama kali pegang Arduino, rasanya campur aduk:
antara bingung, kagum, dan excited.

Lampu LED yang awalnya mati bisa menyala hanya dengan beberapa baris kode. Sensor bisa membaca jarak. Motor bisa bergerak sesuai perintah. Di situ saya sadar:

kode itu bukan cuma tulisan—tapi instruksi nyata untuk dunia fisik.

Walaupun sering gagal, rangkaian salah pasang, atau program nggak jalan, justru di situlah saya belajar satu hal penting: problem solving. Setiap error memaksa saya berpikir, mencoba, dan memahami sebab-akibat.


Dari Robot ke Dunia Programming

Seiring waktu, saya mulai lebih tertarik ke sisi kodingnya.
Bukan cuma “alatnya”, tapi logika di baliknya.

Dari Arduino, saya pelan-pelan masuk ke dunia programming yang lebih luas. Saya mulai kenal komputer bukan cuma sebagai alat, tapi sebagai media untuk membangun sesuatu dari nol.


Bahasa Pertama: PHP dan JavaScript

Bahasa pemrograman pertama yang benar-benar saya pelajari adalah PHP.
Lewat PHP, saya belajar bagaimana sistem bekerja di balik layar—mengolah data, login, dan proses server.

Lalu saya bertemu JavaScript.
Di sinilah dunia coding terasa lebih “hidup”. Website yang tadinya diam, mulai bisa merespons: klik, animasi, interaksi real-time. JavaScript membuka mata saya bahwa coding juga soal pengalaman pengguna, bukan cuma logika.


Struggle yang Nggak Terlihat

Perjalanan ini jelas nggak mulus.

  • Error muncul tanpa penjelasan
  • Kode di tutorial jalan, tapi di laptop sendiri gagal
  • Rasa minder lihat orang lain kelihatan lebih jago

Ada fase hampir menyerah. Tapi setiap satu masalah terpecahkan, muncul kepuasan kecil yang bikin nagih. Dari situlah saya belajar bahwa kemampuan itu dibangun, bukan bawaan lahir.


Kenapa Akhirnya Memilih Web Development

Web development terasa seperti titik temu dari semua yang saya suka:

  • Logika
  • Kreativitas
  • Dan hasil yang langsung bisa dilihat orang lain

Dari halaman kosong, jadi sebuah website. Dari ide sederhana, jadi sistem yang bisa dipakai. Web memberi kebebasan untuk terus bereksperimen dan berkembang.


Visi ke Depan sebagai Developer

Ke depan, saya ingin menjadi developer yang bukan cuma fokus pada “kodenya jalan”, tapi juga bernilai dan berdampak.

Saya ingin membangun:

  • Sistem yang rapi dan berkelanjutan
  • Produk yang nyaman digunakan
  • Solusi yang benar-benar membantu

Karena bagi saya, programming bukan sekadar skill—tapi perjalanan panjang yang dimulai dari rasa penasaran kecil tentang sebuah robot.


🧩 Penutup

Dari robot sederhana berbasis Arduino,
hingga baris-baris kode di layar laptop,
perjalanan ini masih terus berjalan.

Dan selama rasa penasaran itu masih ada,
saya tahu saya akan terus melangkah di dunia programming.

Posting Komentar

0 Komentar